Minggu, 20 Januari 2013

Asuhan Keperawatan: Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)




BAB I
PENDAHULUAN




1.1  Latar Belakang
Dalam beberapa dasawarsa ini, perhatian terhadap janin yang mengalami gangguan terhadap pertumbuhan dalam kandungan sangat meningkat. Hal ini disebabkan masih tingginya angka kematian neonatal karena masih banyak bayi yang dilahirkan dengan berat badan yang sangat rendah (Mochtar, 1998).
Sejak 1961, WHO telah mengganti istilah premature baby dengan low weight baby (Bayi dengan berat badan lahir rendah= BBLR). Karena disadari tidak semua bayi dengan berat badan 2500 gr pada waktu lahir bukan bayi premature.
Menurut data angka kejadian BBLR pada 1986, bahwa angka kematian perinatal di rumah sakit 70 % disebabkan karena BBLR.Prawiwohardjo, 2005)
Melihat dari kejadian tersebut, sudah seharusnya BBLR menjadi perhatian yang mutlak terhadap para ibu yang mengalami kehamilan yang beresiko, dilihat dari resiko BBLR dari tahun ketahun terus mrengalami lonjakan frekuensi.
Kematian perinatal pada bayi berat badan lahir rendah 8 kali lebih besar dari pada bayi normal pada umur kehamilan yang sama. Prognosis lebih buruk lagi apabila berat badan lebih rendah. Angka kematian yang tinggi terutama disebabkan adanya kelainan komplikasi neonatal seperti asfiksia, aspirasi pneumonia, pendarahan intrakanial dan hipoglikemia. Bila bayi selamat kadang-kadang dijumpai kerusakan pada syaraf dan dijumpai gangguan bicara, IQ yang rendah dan gangguan lainnya.

1.2  Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah:
1)      Untuk mengetahui pengertian BBLR
2)      Untuk mengetahui etiologi dari BBLR
3)      Untuk mengetahui komplikasi dari BBLR
4)      Untuk mengetahui penatalaksanaan pada anak bayyi BBLR
5)      Untuk mengetahui asuhan  keperawatan BBLR

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram pada waktu lahir atau lebih rendah (WHO, 1961).
BBLR dibedakan menjadi :
1.      Prematuritas murni
Yaitu bayi pada kehamilan < 37 minggu dengan berat badan sesuai.
2.      Retardasi pertumbuhan janin intra uterin (IUGR)
Yaitu bayi yang lahir dengan berat badan rendah dan tidak sesuai dengan usia kehamilan.
2.2 Etiologi
Penyebab kelahiran prematur secara pasti tidak diketahui, tapi ada beberapa faktor yang berhubungan, yaitu :
1.      Faktor ibu
§  Gizi saat hamil yang kurang, umur kurang dari 20 tahun atau diatas 35 tahun
§  Jarak hamil dan persalinan terlalu dekat, pekerjaan yang terlalu berat
§  Penyakit menahun ibu :hipertensi, jantung, gangguan pembuluh darah, perokok
2.      Faktor kehamilan
§  Hamil dengan hidramnion, hamil ganda, perdarahan antepartum
§  Komplikasi kehamilan : preeklamsia/eklamsia, ketuban pecah dini
3.      Faktor janin
§  Cacat bawaan, infeksi dalam rahim
4.      Faktor Lingkungan
§  Tempat tinggal didataran tinggi
§  Radiasi
§  Zat-zat beracun
2.3  Komplikasi BBLR
Komplikasi yang dapat terjadi pada bayi dengan berat badan lahir rendah, terutama berhubungan dengan 4 proses adaptasi pada bayi baru lahir diantaranya:
·         Sistem Pernafasan: Sindrom aspirasi mekonium, asfiksia neonatorum, sindrom distres respirasi, penyakit membran hialin
·         Sistem Kardiovaskuler: patent ductus arteriosus,
·         Termoregulasi: Hipotermia,
·         Glukosa: Hipoglikemia simtomatik
·         Hiperbilirubinemia, , perdarahan ventrikel otak, anemia
·         Infeksi, retrolental fibroplasia, necrotizing enterocolitis (NEC)
·         Bronchopulmonary dysplasia, malformasi konginetal

2.4  Pemeriksaan Penunjang
Analisa Gas Darah

2.5  Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada bayi BBLR terutama yang berhubungan dengan 4 proses adaptasi bayi baru lahir, diantaranya:
·         Sistem Pernafasan: Resusitasi yang adekuat, terapi oksigen
·         Sistem Kardiovaskuler: Pengawasan terhadap PDA (Patent Ductus Arteriosus)
·         Termoregulasi : Pengaturan suhu, perawatan bayi dalam inkubator
·         Glukosa (Hiperglikemia): Penyuntikan disusul pemberian infuse glukosa
·         Keseimbangan cairan dan elektrolit, pemberian nutrisi yang cukup
·         Pengelolaan hiperbilirubinemia, penanganan infeksi dengan antibiotik yang tepat

2.6  Prognosis BBLR
Kematian perinatal pada bayi berat badan lahir rendah 8 kali lebih besar dari pada bayi normal pada umur kehamilan yang sama. Prognosis lebih buruk lagi apabila berat badan lebih rendah. Angka kematian yang tinggi terutama disebabkan adanya kelainan komplikasi neonatal seperti asfiksia, aspirasi pneumonia, pendarahan intrakanial dan hipoglikemia. Bila bayi selamat kadang-kadang dijumpai kerusakan pada syaraf dan dijumpai gangguan bicara, IQ yang rendah dan gangguan lainnya.

2.7Cara Perawatan Bayi dalam Inkubator
Merupakan cara memberikan perawatan pada bayi dengan dimasukkan ke dalam alat yang berfungsi membantu terciptanya suatu lingkungan yang cukup dengan suhu yang normal. Dalam pelaksanaan perawatan di dalam inkubator terdapat dua cara yaitu dengan cara tertutup dan terbuka.
a.       Inkubator tertutup:
1)      Inkubator harus selalu tertutup dan hanya dibuka dalam keadaan tertentu seperti apnea, dan apabila membuka incubator usahakan suhu bayi tetap hangat dan oksigen harus selalu disediakan.
2)      Tindakan perawatan dan pengobatan diberikan melalui hidung.
3)      Bayi harus keadaan telanjang (tidak memakai pakaian) untuk memudahkan observasi.
4)      Pengaturan panas disesuaikan dengan berat badan dan kondisi tubuh.
5)      Pengaturan oksigen selalu diobservasi.
6)       Inkubator harus ditempatkan pada ruangan yang hangat kira-kira dengan suhu 27 derajat celcius.
b.      Inkubator terbuka:
1)      Pemberian inkubator dilakukan dalam keadaan terbuka saat pemberian perawatan pada bayi.
2)      Menggunakan lampu pemanas untuk memberikan keseimbangan suhu normal dan kehangatan.
3)      Membungkus dengan selimut hangat.
4)      Dinding keranjang ditutup dengan kain atau yang lain untuk mencegah aliran udara.
5)      Kepala bayi harus ditutup karena banyak panas yang hilang melalui kepala.
6)      Pengaturan suhu inkubator disesuaikan dengan berat badan sesuai dengan ketentuan di bawah ini


Asuhan Keperawatan pada Anak dengan BBLR
1.      Pengkajian Keperawatan
a.      Prematuritas murni
·         BB < 2500 gram, PB < 45 cm, LK < 33 cm, LD < 30 cm
·         Masa gestasi < 37 minggu
·         Kepala lebih besar dari pada badan, kulit tipis transparan, mengkilap dan licin
·         Lanugo (bulu-bulu halus) banyak terdapat terutama pada daerah dahi, pelipis, telinga dan lengan, lemak subkutan kurang, ubun-ubun dan sutura lebar
·         Genetalia belum sempurna, pada wanita labia minora belum tertutup oleh labia mayora, pada laki-laki testis belum turun.
·         Tulang rawan telinga belum sempurna, rajah tangan belum sempurna
·         Pembuluh darah kulit banyak terlihat, peristaltik usus dapat terlihat
·         Rambut tipis, halus, teranyam, puting susu belum terbentuk dengan baik
·         Bayi kecil, posisi masih posisi fetal, pergerakan kurang dan lemah
·         Banyak tidur, tangis lemah, pernafasan belum teratur dan sering mengalami apnea, otot masih hipotonik
·         Reflek tonus leher lemah, reflek menghisap, menelan dan batuk belum sempurna
b.      Dismaturitas
·         Kulit berselubung verniks kaseosa tipis/tak ada,
·         Kulit pucat bernoda mekonium, kering, keriput, tipis
·         Jaringan lemak di bawah kulit tipis, bayi tampak gesit, aktif dan kuat
·         Tali pusat berwarna kuning kehijauan
2.      Masalah Keperawatan
Masalah keperawatan yang mungkin muncul pada bayi dengan berat badan lahir rendah, diantaranya:
1)      Tidak efektifnya pola nafas b.d imaturitas fungsi paru dan neuromuskuler
2)      Tidak efektifnya termoregulasi b.d imaturitas control dan pengatur suhu tubuh dan berkurangnya lemak sub cutan didalam tubuh.
3)      Resiko infeksi b.d defisiensi pertahanan tubuh (imunologi).
4)      Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d ketidakmampuan tubuh dalam mencerna nutrisi (imaturitas saluran cerna).
5)      Resiko gangguan integritas kulit b.d tipisnya jaringan kulit, imobilisasi.
6)      Resiko injuri
7)      Kecemasan orang tua b.d situasi krisis, kurang pengetahuan.

3.      Intervensi Keperawatan
Dx
Tujuan
Intervensi
Rasional
1.
Pola nafas epektif.
Kriteria hasil:
§ RR : 30-60 x/mnt
§ Sianosis (-)
§ Wheezing (­­-)

1.   Observasi frekuensi dan bunyi nafas
2.    Observasi sianosis
3.    Pertahankan jalan udara dengan hipertensi rahang
1.   Pernafasan dangakal cepat/dispnea mungkin sehubungan dengan hipoksia atau akumulasi cairan dalam abdomen
2.   Mrnunjukkan kurangnya aliran udara paru
3.   Mencegah obstruksi jalan nafas
2
Suhu tubuh kembali normal.
Kriteria hasil:
§ Suhu 36-37,50c
§ Ekstremitas hangat
1.   Pantau suhu pasien; perhatikan diaforesis
2.   Tempatkan BAyi pada incubator
3.   Monitor tanda hipertermi
4.   Hindari bayi dari pengaruh yang dapat turunkan suhu tubuh
1.   Pola demam akan membantu diagnosis dan intervensi
2.   Pertahankan suhu tubuh yang tetap
3.   Mengetahui komplikasi lebih lanjut
4.   Mencegah proses kehilangan panas
3.
Infeksi tidak terjadi.
Kriteria hasil:
·   Tidak ada tanda-tanda infeksi
·   Leukosit 5000-10000
1.   Kaji tanda infeksi
2.   Isolasi bayi dari bayi yang lain
3.   Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi
4.   Pastikan semua perawatan yang kontak dengan bayi dalam keadaan steril
1.   Menentukan intervensi lebih lanjut
2.   Mencegah terjadinya infeksi nosokomial
3.   Meminimalkan terjadinya infeksi silang dari perawata atau sebaliknya
4.   Meminimalkan kesempatan introduksi mikroorganisme
4
Tidak terjadi gangguan nutrisi atau nutrisi terpenuhi.
Kriteria hasil:
·   Reflek hisap dan menelan baik
·   Muntah (-)
·   BB meningkat 15 gr/hr
·   Turgor kulit elastic
2.    Observasi intake output
3.    Observasi reflex hisap dan menelan
4.    Pasang NGT bila reflek menghisap dan menelan tidak ada
5.    Observasi intoleransi nutrisi parenteral
6.    Timbang BB tiap hari

2.   Membantu dalam mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan diit
3.   Mengidentifikasi kemampuan menelan
4.   Membantu dalam memenuhi asupan nutrisi yang dibutuhkan
5.   Mengidentifikasi kemungkinan lain dari kesalahan tindakan
6.   Perubahan peningkatan berat badan 15 gr/hr menunjukan asupan nutrisi yang seimbang
5
Gangguan integritas kulit tidak terjadi.
Kriteria hasil:
·         Tidak ada lecet atau kemerahan
1.   Kaji tekstur dan warna kulit
2.   Lakukan tindakan septic dan non aseptic
3.   Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi
4.   Jaga kebersihan tempat tidur
5.   Lakukan mobilisasi tiap 2 jam
1.   Memberikan informasi tentang sirkulasi dan kebutuhan intervensi medic lanjut
2.   Menjaga kulit tetap bersih
3.   Menmbantu menjaga kelembaban kulit
4.   Meminimalisir terjadinya kerusakan kulit karena lingkungan
5.   Meminimalkan tekanan pada area punggung yang bisa menggakibatkan masalah  lain
6
Cemas berkurang.
Kriteria hasil:
·   Orang tua tampak tenang
·   Orang tua tidak bertanya-tanya lagi
·   Orang tua tampak
1.   Kaji tingkat pengetahuan orang tua
2.   Beri penjelasan ttg keadaan bayinya
3.   Libatkan keluarga dalam perawatan bayinya
4.   Berikan support dsn reinforcement atas apa yang dicapai orang tua
5.   Latih orang tua ttg cara perawatan bayi di rumah
1.   Memberikan pengetahuan dasar sejauh mana orang tua mengetahui kondisi klien
2.   Memberikan pemahaman pada orang tua tentang kondisi yang dialami klien
3.   Meningkatkan kerja sama dalam proses perkembangan keadaan kliren
4.   Meningkatkan harga diri atas pencapaian yg diperoleh
5.   Memberikan tambahan pengetahuan dan meminimalkan terjadinya masalah lebih lanjut.


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram pada waktu lahir. Dimana, angka kematian perinatal pada bayi berat badan lahir rendah 8 kali lebih besar dari pada bayi normal pada umur kehamilan yang sama. Prognosis lebih buruk lagi apabila berat badan lebih rendah. 
Angka kematian yang tinggi terutama disebabkan adanya kelainan komplikasi neonatal seperti asfiksia, aspirasi pneumonia, pendarahan intrakanial dan hipoglikemia. Bila bayi selamat kadang-kadang dijumpai kerusakan pada syaraf dan dijumpai gangguan bicara, IQ yang rendah dan gangguan lainnya


DAFTAR PUSTAKA
Doengoes, Marilynn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC.
Hanifa Gulardi, dkk. 2007. Buku Panduan Praktisi Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Puataka Sarwono Prawirohardjo
Prawirohardjio, Sarwono. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: YBP.
Rukiyah dan Lia Yulianti. 2010. Asuhan Neonatus, Bayi dan Anak Balita. Jakarta: Trans Info Media
Staf Pengajar FKUI. 2007. Buku Kuliah 3 Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: Infomedika
Supartini, Yupi. 2004. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: EGC.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar